3 Followers
1 Following
onlywords

Words of a Bibliophile

"It's only words, and words are all I have, to take your heart away." —Bee Gees

The Book of Lost Things

The Book of Lost Things - John Connolly, Rob Ryan, Tanti Lesmana Melihat judul buku ini, Kitab Tentang yang Telah Hilang, kita bisa menebak ceritanya berhubungan dengan kehilangan sesuatu atau seseorang. Di awal buku kita langsung dihadapkan pada nasib pahit David, seorang anak lelaki yang kehilangan ibunya karena penyakit. Tak lama setelah ibunya meninggal ayahnya kemudian menikah lagi. Tanpa pernah meminta David diberi ibu baru, Rose, dan adik lelaki baru, Georgie, serta harus pindah ke rumah baru pula. Di tengah masa perang yang berkecamuk di Inggris, hidup David pun tak kalah berkecamuk karena sulitnya menyesuaikan diri dengan semua perubahan yang terjadi. Ia mulai sering mendapat penglihatan-penglihatan aneh dan mendengar buku-buku di kamarnya berbicara. Puncaknya, ia masuk ke dunia lain ketika sedang menghindari pesawat Jerman yang jatuh di kebun rumahnya.

Dunia yang dimasuki David penuh hal-hal aneh dan berbahaya, di antaranya makhluk Loup yang merupakan gabungan serigala dan manusia, Binatang mengerikan yang ganas dan sering memangsa penduduk, atau pemburu yang doyan memutilasi anak-anak. Banyak pula tokoh-tokoh yang sering ada dalam dongeng seperti Snow White dan Putri Tidur, tapi mereka tak seperti dalam kisah-kisah yang pernah dibaca David. Untuk mencari jalan pulang David harus menghadap raja negeri itu yang konon memiliki sebuah kitab yang mungkin bisa membantunya. Dengan bantuan si Tukang Kayu dan seorang ksatria, Roland, David harus menghadapi berbagai rintangan terutama dari seorang Lelaki Bungkuk yang tampaknya tahu banyak tentang dirinya dan punya rencana tertentu untuknya.

Saya cukup kaget saat tahu bahwa penulis buku ini, John Connolly, sebelumnya banyak mengarang novel kriminal, karena ia cukup piawai meramu 'dongeng untuk orang dewasa' ini. Meski penuh dengan hal-hal mengerikan, kejam dan twisted, inti cerita sebenarnya adalah perjalanan psikologis dan emosional David dari seorang anak kecil menuju lelaki dewasa. Ia harus menghadapi rasa takut, iri dengki, prasangka, dan kehilangan. Kita kemudian tahu bahwa sang raja negeri itu dulunya adalah seorang anak dari dunia David yang pernah mengorbankan adik angkatnya sendiri kepada si Lelaki Bungkuk. Ketika David dihadapkan pada situasi yang sama, ia memilih untuk tidak mengorbankan adik tirinya, Georgie, meski dahulu ia merasa benci pada Georgie karena dianggap merebut kasih sayang ayahnya. David telah cukup dewasa untuk tidak menyerah pada pikiran-pikiran buruk yang ada dalam dirinya.

Kejutan lain adalah tokoh si Tukang Kayu yang dikisahkan tewas oleh serigala di awal cerita belakangan diketahui masih hidup dan bertemu lagi dengan David. Ia juga ternyata sudah tahu yang sebenarnya mengenai sang raja dan si Lelaki Bungkuk. Ketika si Tukang Kayu mengatakan "semua anak-anak adalah anak-anakku", ia seakan mengungkapkan dirinya sebagai figur otoritas simbolik di dunia tersebut – seperti tokoh Aslan di kisah Narnia. Dan seperti Narnia juga, David pun pada akhirnya akan kembali ke dunia tersebut. Dilihat dari sisi psikologis, bisa saja seluruh petualangan David di negeri antah berantah itu hanyalah mimpi atau buah imajinasinya sendiri. Ia memang sedang mengalami masalah pribadi yang pelik dan butuh cara alternatif untuk mengatasinya. Entah perjalanan David itu dikhayalkannya atau tidak, kisah ini cukup memesona bagi saya dan berhasil mencapai tujuannya untuk menjadi dongeng bagi orang dewasa.